Perjalanan Seorang Musafir




oleh:Hadi Santosa



Pada zaman dahulu ada seorang lelaki separuh baya, lelaki itu begitu asyik dengan perjalanananya, sebuah perjalanan yang tanpa tujuan dari titik nol menuju titik nol lainnya, dalam hatinya ia hanya memiliki satu tujuan bahwa harta tak di bawa mati, semua tak di bawa mati kecuali pengalaman hidup, begitulah pandangan si musafir tersebut.

Pemikirannya menuntunnya bahwa dalam hidup tak perlu kerja, tak perlu pola yang ada hanya hidup dan hanya hidup. Di usianya yang cukup matang seharusnya ia sudah memiliki sebuah keluarga, beristri dan momongan, namun begitulah si musafir yang telah tenggelam oleh mimpi-mimpinya.

Dia begitu meyakini bahwa orang yang kerja keras masih kalah dengan orang yang beruntung, dia terus berjalan menjemput sebuah keberuntungan, ia yakin akan meraih sebuah mimpi yang tidak semua orang mampu meraihnya.

Suatu hari dia sadar juga dengan semua tingkah dan kegilaannya, langkahnya terhenti dan berucap: 'Mau sampai kapan aku begini? Sementara usiaku kian bertambah tua, aku butuh pekerjaan, istri dan berumah tangga.”

***

Akhirnya si musafir itu kapok juga, ia mulai cari kerja. Sesungguhnya tangan dan kaki ini untuk di gerakkan bukan tempat menyimpan mimpi sedangkan mimpi tempatnya di dalam hati. Jika Anda memiliki sebuah mimipi besar, letakkanlah di dalam hati sedangkan tangan dan kaki adalah sarana untuk mencapai impian tersebut.

Impian memang suatu hal yang harus di miliki bagi jiwa-jiwa yang sukses namun bukan berarti mematikan sebuah kreatifitas, banyak orang meyakini mimipi-mimpinya hingga tidak mau lagi bekerja,
itu salah besar! Mimpi bisa terwujud bisa juga tidak sedangkan hidup selalu ada.

Maka jangan tunggu mimpi Anda jangan pula menjemputnya dengan tangan yang hampa, hidupilah mimpi itu hingga pada suatu hari, mimpilah yang akan berbalik mengidupi Anda.

Saya Hadi Santosa, Salam Sejahtera.

1 komentar: